Jumat, 09 April 2021
  • #gaiaekodayabuana
Share :
Sudut Pandang Lingkungan dari Kacamata Agama

Perubahan dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik merupakan cita-cita dari setiap individu manusia. Bila perubahan bisa mengendalikan faktor yang selama ini menjadi hambatan, maka tidak ada salahnya dicoba. Kehidupan yang semakin prihatin menjadikan peran dan tanggung jawab kita sebagai individual tidak peka terhadap dampak yang diberikan kepada kerusakan alam yang semakin lama semakin hebat.

Berbagai kerusakan alam dan bencana banjir, longsor, kebakaran hutan, penebangan liar, perburuan satwa, sampah dan lainnya merupakan permasalahan yang terus terjadi sehari-hari. Semuanya itu tidak semata-mata disebabkan oleh alam, justru manusia-lah yang menimbulkan kerusakan lingkungan tersebut. Keliru bagi manusia menyalahkan bencana datang dari Sang Maha Pencipta, karena alam hanya merespon dan menyesuaikan apa  yang dilakukan oleh prilaku manusia. Sebelum peradaban manusia hadir, alam menyesuaikan dengan sendirinya, karena siklus itu terjadi secara alamiah. Pada zaman manusia purba, perkembangan teknologi sudah dimulai, meski secara sederhana. Berbagai benda dan alat yang digunakan seperti alat berburu, alat untuk makan, sampai tempat peristirahatan semua menggunakan unsur alam.

Perkembangan kian maju, dari yang primitif sampai dengan modern, teknologi industri menjadi peradaban baru, dimana manusia berlomba-lomba mengeksploitasi alam demi keuntungan semata. Kekayaan alam semesta yang ada didalam kandungan Bumi mulai dilucuti, dari pertambangan, perambahan hutan, dan banyak hal lainnya. Semuanya hanya demi memenuhi kebutuhan manusia modern dengan segala hawa nafsunya.   

Pada peradaban manusia jauh sebelumnya, belum banyak ancaman terhadap kondisi lingkungan, karena teknologi yang digunakan pun masih sederhana. Nilai kearifan masih sangat terjaga dengan baik, di mana manusia masih menghargai dan melindungi alam sebagai sumber kehidupan dan harus dijaga sampai jauh kedepan. Sebagian besar percaya, alam semesta inilah yang membentuk diri manusia sebenarnya.

Kini peradaban manusia kian berkembang, dan perkembangan teknologi begitu pesat, sudah waktunya mengingatkan Bumi ini sudah tidak lagi lestari. Seiring dengan waktu, kondisi alam mengalami perubahan, dan inilah yang mengakibatkan kondisi lingkungan dimana pun berada juga mengalami perubahan.

Prilaku manusia terhadap alam kian tidak terkontrol, atas dasar keangkuhan. Mengeksploitasi alam secara besar-besaran hanya untuk kemapanan bagi segelintir orang, sedangkan jauh disana masih banyak manusia menderita akibat dari sulitnya mendapatkan kenikmatan dari sumber alam mereka sendiri.

Alam mengalami gejolak mengikuti perubahan dari apa yang dilakukan manusia yang tidak bertanggung jawab. Daya otak manusia tanpa batas untuk mencari maupun menciptakan sebuah teknologi, namun dampak yang ditimbulkan juga perlu dipikirkan.

Tidak arifnya manusia menghargai alam dan keserakahan mengakibatkan kerusakan terus terjadi sampai saat ini. Jauh sebelumnya, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ingin memiliki lembah emas kedua ; seandainya ia memiliki lembah emas kedua, ia ingin memiliki lembah emas yang ketiga. Baru puas nafsu anak Adam kalau sudah masuk tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang mau kembali kepada-Nya.” (Hadist riwayat : Bukhori Muslim)

 Arif terhadap lingkungan akan jauh lebih menghargai alam semesta yang menjadi tampat bernaung bagi seluruh kehidupan makhluk hidup didalamnya, semoga kita termasuk didalamnya.

 

Untuk Bumi yang layak huni, Salam lestari