Kamis, 28 Oktober 2021
  • #suakamargasatwamuaraangke #gaiaindonesia #gaiaekodayabuana
Share :
Harta karun Suaka Margasatwa Muara Angke

Latar belakang

Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) adalah salah satu dari beberapa kawasan lindung yang kondisi alamnya masih alami. Kawasan seluas 25.02 ha ini adalah salah satu kawasan konservasi yang ditetapkan dengan SK Menteri Kehutanan No.097/Kpts-II/1998 sebagai kawasan Suaka Margasatwa.

Kawasan Muara angke sebetulnya sudah ditetapkan oleh Pemerintahan Belanda pada tahun 1939 sebagai wilayah cagar alam, yang memiliki luas sekitar 15.04 ha. Kemudian pada masa peralihan pemerintahan Belanda ke Indonesia kawasan ini akhirnya diperluas menjadi 1.344,62 ha pada tahun 1960. Kawasan ini menjadi sangat luas karena memang disepanjang pantai utara Jawa yang pada saat itu kondisinya masih sangat kosong belum terjadi pembangunan secara fisik maupun ekonomi.

Seiring berjalannya waktu dan kondisi membuat kawasan ini akhirnya sedikit demi sedikit mengalami kerusakan secara ekologi. Dilahan seluas ribuan hektar tersebut, beberapa titik dijadikan sebagai kawasan tambak oleh masyarakat sekitar. Pembukaan lahan tambak oleh masyarakat sedikitnya mengakibatkan kawasan yang telah dilindungi tersebut menjadi merubah fungsi.

Secara fisik kawasan  lahan basah yang dipenuhi dengan hutan mangrove membuat kawasan ini menjadi berubah fungsi menjadi tambak liar yang dijadikan oleh masyarakat sebagai mata pencaharian.

Pembukaan lahan tambak ini setidaknya telah menjadikan kawasan lahan basah yang ada pada kawasan tersebut menjadikan kondisi lingkungan menjadi rusak, baik didalam maupun diluar kawasan. Terutama pada penebangan lahan hutan mangrove yang menjadi hutan utama yang tumbuh secara alami disepanjang pesisir utara Jakarta. Kemudian dari segi struktur tanah / lumpur yang menjadi tempat tumbuhnya hutan mangrove dikeruk dan kemudian dibuang hanya untuk membuat sebuah lahan tambak.

Permasalahan ini akhirnya menjadi serius karena semakin banyaknya tambak yang menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar pesisir maka semakin berkurangnya kawasan lahan basah atau hutan mangrove yang ada.

Berangkat dari permasalahan tersebut maka pada tahun 1998 akhirnya diputuskanlah SK Menteri Kehutanan untuk menertibkan atau menghilangkan seluruh tambak liar yang ada dan ditetapkanlah kawasan Muara angke menjadi kawasan konservasi yang dilindungi dibawah perlindungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta.

Dibawah perlindungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta kawasan ini sekarang masih terjaga dengan baik dan bisa digunakan sebagai salah satu tempat untuk pendidikan maupun riset.

Habitat

Kawasan seluas 25.02 ha ini menjadi habitatnya burung dan hutan mangrove yang masih tersisa di Utara Jakarta. Sekitar 91 jenis burung dan 3 jenis hutan mangrove sejati menjadi penghuni yang menjadi harta karun bagi kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke. Mengapa kawasan ini menjadi sangat penting bagi kota Jakarta, karena memang secara kondisi kawasan ini merupakan kawasan alami yang masih tersisa. Sedikit ruang terbuka yang alami ada di Kota Jakarta, maka dari itu kawasan ini menjadi sangat penting untuk dijaga dan dilindungi, tidak hanya dari Pemerintah namun juga bagi masyarakat.

Keanekaragaman hayati yang ada dikawasan muara angke ini menjadi harta karun tersendiri, karena banyaknya jenis satwa maupun vegetasi yang tinggal dan menetap dikawasan ini.

Secara geografis wilayah konservasi ini tidaklah sangat besar jika dibandingkan dengan kondisi pembangunan yang ada disekitar kawasan tersebut.  Pesatnya pembangunan kota Jakarta menjadikan kawasan ini terlihat kontras, karena secara wilayah kawasan konservasi muara angke dilihat terselip diantara pembangunan perumahan elite dan pembangunan pertokoan yang ada disekitar perumahan pantai indah kapuk.

Ironis namun sedikit unik, karena lokasinya yang terhimpit diantara pembangunan kota, menjadikan kawasan ini sangat berharga. Setidaknya kawasan konservasi yang masih alami ini bisa menjadi warna dalam sisi kehidupan kota yang tentunya kawasan ini juga menjadi tempat tinggal bagi makhluk hidup lainnya.

Burung (Avifauna)

Burung merupakan salah satu indicator penting apakah kawasan tersebut masih alami dan terjaga baik secara ekosistem. Kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki banyak jenis burung, baik itu sebagai tempat tinggal maupun tempat untuk mencari makan.

Setidaknya 91 jenis burung tercatat dikawasan ini, 5 (lima) jenis diantaranya telah ditetapkan sebagai satwa terancam punah yaitu Bubut jawa (sunda coucal) dan Jalak putih (black winged starling), Pecuk ular asia (Oriental darter), Bangau bluwok (Milky stork), dan Cerek jawa (Javan plover).

Dan sekitar..? jenis merupakan jenis burung migrant, sekitar bulan..?...awal migrant burung-burung tersebut singgah di kawasan Muara angke. Ini membuktikan bahwasanya kawasan ini sangat penting bagi kehidupan burung selain sebagai tempat tinggal dan tempat mencari makan. Melihat kondisi tersebut maka kawasan Muara angke ini ditetapkan sebagai kawasan IBA (Important Bird Area) oleh Organisasi pelestarian Burung dunia yaitu Birdlife Internasional.

Herpetofauna (Reptil dan Amfibi)

Kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke juga tidak hanya dihuni dengan satwa burung, namun juga dihuni oleh beberapa jenis reptile diantaranya ada Biawak, Ular sanca kembang, Ular Tanah, Ular cincin, Ular pecuk,

Jenis reptil biawak, ular pecuk, ular tanah sering kali terlihat disekitar kawasan, kecuali untuk jenis ular sanca. Dari beberapa jenis reptil yang ada dikawasan tersebut menjadi sebuah satu rangkaian ekosistem yang sampai saat ini terjaga dengan baik.

Kemudian untuk jenis amphibi terdapat juga jenis katak, kodok yang sering dijumpai. Katak ? ini menjadi menarik ketika dimalam hari karena memiliki suara yang khas. Walaupun bentuk fisiknya cukup sulit ditemukan namun suaranya menjadi tanda tersendiri.

 Mamalia

Mamalia yang ada dikawasan Muara Angke hanya ada beberapa ekor Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Monyet tersebut telah ada sebelumnya namun tidak terlalu banyak jumlahnya, saat ini monyet tersebut telah beranak pinak dan bertambah secara jumlah. Sekitar 30 ekor lebih monyet yang ada di kawasan seluas 25.02 ha ini. Dengan jumlahnya yang bertambah banyak maka sisi lain keberadaan monyet ini juga cukup meresahkan, terutama bagi para pengunjung yang ingin datang melihat Suaka Margasatwa Muara Angke.

Karakternya yang sangat agresif menjadi cirri dari monyet tersebut. Walaupun jarang sekali menyerang secara fisik namun agresif ketika kita berada diwilayah monyet tersebut. Dengan jumlah nya yang saat ini cukup banyak , maka secara alami pun kelompok monyet tersebut kini terbagi menjadi 2 (dua) kelompok.