Kota Jakarta adalah rumah bagi semua, tidak hanya bagi manusia, namun juga keanekaragaman hayati di dalamnya. Ibu kota negara yang penuh sesak dengan berbagai aktivitasnya ternyata masih menyimpan kekayaan, salah satunya keberadaan jenis-jenis burung. Tercatat sekitar 250 jenis burung ada di Jakarta menghiasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada. Keberadaan berbagai jenis burung yang mampu bertahan dan adaptif di tengah perubahan habitat karena pembangunan kota. Gedung, pusat perbelanjaan dan pemukiman yang semakin pesat menjadi salah satu faktor perubahan hilangnya habitat bagi makhluk hidup sekitar. Burung-burung yang sebelumnya hidup tenang, beberapa jenis harus pergi dan menghilang di kota Jakarta di antaranya burung Gelatik batu abu (Parus major), Jalak putih (Acrdotheres melanopterus) dan Bentet kelabu (Lanius schach)
Pentingnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan menjadi solusi dalam upaya memberikan ruang terhadap makhluk hidup lain, seperti burung, mamalia, dan juga herpetofauna serta serangga. Ruang hijau sebagai habitat di Jakarta masih minim lokasinya, oleh karena itu perlu didorong untuk mengoptimalisasi kembali keberadaannya. Urban Wildering hadir menjadi sebuah gagasan dengan tujuan mengembalikan kota Jakarta secara alami melalui pendekatan menjaga dan merawat ruang terbuka hijau sebagai penyeimbang untuk menjaga kelestarian. Konsep ini sudah lama dikenal di kota-kota maju seperti Eropa, bagaimana keberadaan ruang-ruang hijau di perkotaan tidak hanya bermanfaat bagi manusia, namun juga bagi makhluk hidup sekitar sebagai penyeimbang dan menjadi indikator sebuah kota yang sehat. Dengan begitu harapan ke depan adalah bagaimana sebuah kota sebagai tempat bagi manusia dapat hidup berdampingan dengan berbagai keanekaragaman hayati yang ada di sekitar.





















