Perubahan iklim menjadi salah satu pemicu utama krisis keanekaragaman hayati global. Peningkatan suhu bumi, perubahan pola curah hujan, kenaikan muka air laut, serta meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem memengaruhi seluruh komponen ekosistem. Di antara berbagai kelompok fauna, burung menempati posisi penting karena respon ekologisnya yang relatif cepat dan mudah diamati. Perubahan pada distribusi, perilaku, dan dinamika populasi burung sering kali menjadi sinyal awal terjadinya perubahan lingkungan yang lebih luas.
Tulisan ini membahas hubungan antara burung dan perubahan iklim melalui tiga aspek utama, yaitu dinamika ekologi, migrasi, dan implikasinya terhadap konservasi, dengan penekanan pada relevansi bagi wilayah tropis seperti Indonesia.
Dinamika Ekologi Burung Dalam Iklim yang Berubah
Burung memiliki hubungan erat dengan kondisi lingkungan, khususnya suhu, curah hujan, dan ketersediaan sumber pakan. Banyak spesies burung mengatur waktu berbiak berdasarkan isyarat iklim musiman yang relatif stabil. Namun, perubahan iklim mengganggu kestabilan tersebut.
Peningkatan suhu global telah menyebabkan pergeseran fenologi pada tumbuhan dan serangga, seperti perubahan waktu berbunga, berbuah, atau puncak kelimpahan serangga. Ketika waktu berbiak burung tidak lagi selaras dengan puncak ketersediaan pakan, tingkat keberhasilan reproduksi dapat menurun. Fenomena ini dikenal sebagai phenological mismatch dan telah terdokumentasi pada berbagai spesies burung di dunia.
Pada ekosistem hutan tropis, perubahan pola hujan memengaruhi struktur vegetasi dan komposisi spesies tumbuhan. Burung spesialis habitat, terutama yang bergantung pada hutan primer atau mikrohabitat tertentu, cenderung lebih rentan terhadap perubahan ini. Sebaliknya, burung generalis yang mampu memanfaatkan berbagai tipe habitat sering kali lebih adaptif. Ketidakseimbangan ini berpotensi menurunkan keanekaragaman burung meskipun jumlah individu secara keseluruhan tampak stabil.
Migrasi Burung dan Perubahan Iklim
Migrasi merupakan strategi adaptif yang memungkinkan burung memanfaatkan sumber daya di lokasi yang berbeda sepanjang tahun. Pola migrasi sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, termasuk suhu, angin, dan ketersediaan habitat persinggahan.
Perubahan iklim telah memengaruhi migrasi burung dalam beberapa cara. Pertama, terjadi pergeseran waktu migrasi, di mana burung tiba lebih awal atau lebih lambat di lokasi tujuan. Kedua, perubahan kondisi lingkungan menyebabkan perubahan rute migrasi, terutama ketika habitat persinggahan seperti lahan basah dan pesisir mengalami degradasi. Ketiga, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem memperbesar risiko kelelahan dan kematian selama migrasi jarak jauh.
Indonesia memiliki peran strategis dalam jalur migrasi Asia Timur–Australasia sebagai wilayah singgah dan musim dingin bagi jutaan burung migran. Namun, kenaikan muka air laut, alih fungsi lahan pesisir, serta degradasi mangrove dan rawa mempersempit habitat penting tersebut. Tekanan lokal ini berinteraksi dengan dampak perubahan iklim global, sehingga meningkatkan kerentanan burung migran yang melintasi wilayah Indonesia.
Burung sebagai Indikator Perubahan Iklim
Burung sering digunakan sebagai indikator perubahan iklim karena memiliki sebaran luas, mudah diamati, dan sudah dipelajari dalam jangka waktu panjang. Pergeseran distribusi burung pegunungan ke elevasi yang lebih tinggi, perubahan komposisi komunitas burung di kawasan pesisir, serta penurunan populasi spesies tertentu dapat mencerminkan perubahan kondisi lingkungan yang lebih luas.
Data burung juga relatif mudah dikumpulkan melalui pendekatan pemantauan berbasis komunitas atau citizen science. Dengan dukungan teknologi digital, pengamatan burung kini dapat berkontribusi pada basis data jangka panjang yang penting untuk memahami dampak perubahan iklim secara spasial dan temporal.
Implikasi bagi Konservasi Burung
Perubahan iklim menantang pendekatan konservasi yang bersifat statis dan berbasis lokasi tetap. Habitat yang saat ini sesuai bagi suatu spesies burung belum tentu tetap sesuai di masa depan. Oleh karena itu, konservasi burung perlu beradaptasi dengan dinamika iklim.
Koloni burung kuntul dihabitat lahan basah sangat rentan mengalami perubahan
Pendekatan lanskap dan konektivitas menjadi kunci untuk memungkinkan pergerakan burung antar habitat. Perlindungan habitat kunci seperti hutan pegunungan, lahan basah, mangrove, dan dataran banjir sangat penting karena kawasan tersebut berpotensi menjadi climate refugia. Selain itu, integrasi skenario perubahan iklim ke dalam perencanaan konservasi diperlukan agar strategi yang diterapkan tetap relevan dalam jangka panjang.
Keterlibatan masyarakat juga memegang peran penting. Kegiatan pengamatan burung, dan pemantauan berbasis komunitas tidak hanya mendukung pengumpulan data, tetapi juga meningkatkan kesadaran publik bahwa perubahan iklim berdampak nyata pada kehidupan liar di sekitar mereka.
Burung memberikan gambaran nyata tentang bagaimana perubahan iklim memengaruhi ekosistem. Perubahan perilaku, migrasi, dan distribusi burung bukan sekadar fenomena biologis, melainkan cerminan dari perubahan lingkungan yang lebih luas. Melalui burung, kita dapat memahami bahwa konservasi keanekaragaman hayati dan upaya menghadapi perubahan iklim merupakan dua agenda yang tidak dapat dipisahkan. Menjaga burung berarti menjaga fungsi ekosistem, dan pada akhirnya menjaga keberlanjutan kehidupan manusia itu sendiri.
Teks dan Foto : Yasin Chumaedi/ Biodiversity Officer Gaia Indonesia
Referensi
- Both, C., Bouwhuis, S., Lessells, C.M., & Visser, M.E. (2006). Climate change and population declines in a long-distance migratory bird. Global Change Biology, 12(1), 1–10.
- BirdLife International. (2015). Climate Change and Birds. Cambridge: BirdLife International.
- BirdLife International. (2021). State of the World’s Birds. Cambridge: BirdLife International.
- Parmesan, C. (2006). Ecological and evolutionary responses to recent climate change. Proceedings of the Royal Society B, 273(1595), 143–152.
- Gregory, R.D., van Strien, A., Vorisek, P., et al. (2005). Developing indicators for European birds. Ecological Indicators, 5(4), 1–12.
- IPCC. (2022). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report.
- Convention on Migratory Species. (2014). Migratory Species and Climate Change. Bonn: UNEP/CMS.
- East Asian–Australasian Flyway Partnership. (2019). Flyway Site Network and Climate Change.
- Sullivan, B.L., et al. (2014). The eBird enterprise: An integrated approach to citizen science. Biological Conservation, 169, 31–40.





