GALLERY

Berkenalan Dengan Satwa Penghuni Taman Nasional Baluran

Lutung jawa (Trachpithecus auratus) salah satu jenis primata yang berada di kawasan Taman Nasional Baluran

Tidak hanya primata, burung Merak jawa (Pavo muticus) juga menjadi jenis burung ikonik di sana

Hamparan sabana Taman Nasional Baluran seperti alam Afrika yang ternyata memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi

Salah satu buktinya adalah keberadaan tengkorak kepala Banteng jawa (Bos javanicus) yang juga menjadi satwa ikonik di sana

Panas dan gersang sepintas seperti tidak ada kehidupan. Padang savana membentang luas seakan sepi penghuni seperti dataran alam Afrika. Kawasan yang terletak di ujung timur Jawa merupakan salah satu kawasan kaya akan keanekaragaman hayatinya. Keberadaannya menjadi penting sebagai penyeimbang terutama bagi kehidupan satwa liar yang hidup di padang sabana yang ditumbuhi tumbuhan alang rendah dengan latar belakang pepohonan yang rapat. Berbagai jenis burung seperti Merak jawa atau Merak hijau (Pavo muticus), Kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), Elang jawa (Nisaetus bartelsi) serta Ayam hutan hijau (Gallus varius). Selain itu terdapat jenis mamalia seperti Lutung jawa (Trachpithecus auratus), Rusa timor (Cervus timorensis), Banteng jawa (Bos javanicus) serta jenis predator seperti Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) menjadi penghuni tetap di kawasan Taman Nasional Baluran.

Kawasan lindung sekitar 25.000 hektar ini dibagi menjadi beberapa zonasi sebagai bagian dari wilayah konservasi. Beberapa di antaranya terdapat zona inti, zona rimba, zona perlindungan bahari, zona pemanfaatan, zona tradisional, zona rehabilitasi dan zona khusus. Dari pembagian zona wilayah tersebut, zona inti merupakan zona  terpenting, karena menjadi kawasan lindung dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati Taman Nasional Baluran.

Terletak di Kecamatan Banyu Putih, Kabupaten Situbondo berbatasan dengan wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur wilayah Utara berbatasan dengan selat Madura ini merupakan salah satu taman nasional yang patut dikunjungi. Dengan suhu udara rata-rata mencapai 27 hingga 34 derajat Celcius yang memang cukup panas, namun menjadi pengalaman menarik. Bila ke sana, jangan lupa membawa obat anti serangga dan juga krim anti sinar matahari.

 

Teks dan Foto : Dedy Istanto/ Gaia Indonesia

Ask Our Expert

Join hands with GAIA, your dedicated partner in Southeast Asia, to make a lasting impact on our planet. With our expert team and local insights, we help you meet your climate, biodiversity, and social goals efficiently and effectively.

Contact Form