Kegiatan Bird race atau lomba pengamatan burung merupakan sebuah kegiatan dalam menggabungkan olahraga alam, penelitian ilmiah sederhana, dan semangat konservasi. Kegiatan ini berkembang di Indonesia bukan hanya sebagai ajang kompetisi, namun sebagai gerakan dalam memperkuat komunitas pengamat burung di nusantara sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat luas terhadap keberadaan keanekaragaman hayati.
Jejak Awal Di Tahun 199o sampai dengan Tahun 2000
Perjalanan kegiatan pengamatan burung sudah hadir di Indonesia sejak lama, terutama di kalangan akademisi, pecinta alam kampus, serta para peneliti para era tahun 1990 di berbagai wilayah. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan kampanye dalam upaya menjaga serta melindungi keberadaan jenis-jenis burung yang ada di sekitar. Bentuk kegiatannya dikemas secara menyenangkan dan dilakukan secara berkala. Jalan panjang kegiatan Birdwatching atau pengamatan burung menjadi daya tarik sendiri, karena dari kegiatan tersebut mulai tumbuh minat dari individu-individu yang fokus menjadi seorang pengamat burung. Proses tersebut terus berkembang sampai diadakannya kegiatan bird race yaitu sebuah kompetisi lomba bagi para pengamat burung yang dimulai sekitar akhir tahun 1990-an sampai awal tahun 2000-an yang diadakan di lingkungan kampus, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan beberapa kelompok pecinta alam.
Kegiatan Bird race pada saat itu masih sederhana, para peserta membawa teropong, buku identifikasi, dan logbook manual untuk mencatat burung yang berhasil ditemukan, karena kegiatan tersebut bertujuan dalam rangka mengedukasi dan memperkenalkan jenis-jenis burung kepada mahasiswa dan masyarakat luas.
Era Tahun 2000 sampai dengan 2010
Perjalanan periode tahun tersebut menjadi fase penting dalam perkembangan kegiatan Bird race. Banyak event kegiatan Bird race dilakukan dibeberapa wilayah di Indonesia dengan skala yang lebih besar. Beberapa di antaranya termasuk :
- Merapi Bird Race (Yogyakarta) di lereng Gunung Merapi sejak 2003
- PWEC Bird Race (Malang) pada 2004
- Kalipagu Bird Race (Gunung Slamet) pada 2005
- Nusa Penida Bird Race (Bali) pada 2006
- Bicons Bird Race (Bandung) pada 2007–2008
Perjalanan kegiatan Bird race semakin dikenal luas terutama di kalangan komunitas kampus, organisasi pecinta alam dengan publikasi yang lebih luas melalui liputan media. Proses dalam menentukan format penilaian lomba semakin rapi karena menggunakan standar pengamatan internasional.
Baluran Birding Competition (2010–2015) Ajang Bird Race Berpengaruh
Salah satu ajang kegiatan Bird race yang menyita perhatian banyak orang adalah Baluran Birding Competition (BBC) yang diselenggarakan di Taman Nasional Baluran. Kegiatan yang dimulai dari tahun 2010 ini berkembang menjadi ajang kegiatan bird race terbesar di Indonesia pada masanya, karena diikuti oleh ratusan peserta dari seluruh penjuru daerah dengan total hadiah puluhan juta.
Baluran Birding Race memperkenalkan konsep kompetisi yang lebih profesional, karena memiliki aturan dan penilaian yang jelas, seperti
- zona pengamatan yang jelas
- verifikasi spesies melalui juri ahli
- pembagian kategori peserta
Karena itu ajang ini menjadi inspirasi bagi banyak daerah lain untuk mengadakan acara yang serupa.
Era Baru Kegiatan Birdwatching Tahun 2016 sampai dengan 2020
Pada masa era digital yang berkembang pesat, kegiatan Bird race semakin populer seiring berkembangnya minat masyarakat akan dunia fotografi alam bebas. Kegiatan birdwatching mulai tumbuh seiring perkembangan teknologi dengan mendokumentasikan berbagai jenis burung melalui sebuah foto dan mengunggahnya ke platform sosial media seperti Facebook dan Instagram. Seiring perjalanannya mulai tumbuh beberapa komunitas yang hadir sejak era tahun 2010 baik dari komunitas fotografi alam bebas sampai dengan komunitas pengamat burung seperti komunitas Indonesia Wildlife Photography, Pengamat Burung Indonesia, Birdpacker, dan Jakarta Birdwatchers Society.
Beberapa event kegiatan Bird race juga hadir pada masa era tahun tersebut, di antaranya, Merapi Birdwatching Competition 2016 dan 2018 yang digelar oleh kelompok peneliti kampus dan juga tumbuh kembangnya ajang pengamatan burung tingkat kota dan taman nasional. Kegiatan Bird race tidak lagi identik dengan kegiatan kampus saja, seiring perjalanannya menjadi sebuah kegiatan yang diikuti oleh keluarga, komunitas umum, dan wisatawan pencinta alam.
Transformasi Digital Tahun 2020 sampai dengan 2024
Era tahun ini merupakan era mempercepat banyak perubahan format kompetisi birdwatching dan Bird race. wabah Pandemi yang melanda Indonesia selama dua tahun merubah skema ajang lomba dengan diadakan secara kompetisi online dengan proses pengumpulan data diunggah melalui aplikasi Burungnesia melalui kegiatan Big Month tahun 2020 serta kampanye “Indonesia Big Year 2024” yang diselenggarakan oleh Birdpacker.
Meskipun kegiatan Bird race masih dilakukan di beberapa lokasi seperti di Ternate, Gunung Lawu dan di Yogyakarta. Konsep baru Bird race ini membuat kompetisi semakin inklusif. Masyarakat umum yang bukan dari latar belakang ilmu biologi atau pun bidang serupa dapat mengikuti kompetisi tersebut.
Konsep Bird Race Masuk ke Perkotaan Tahun 2024–2025
Konsep ini muncul dalam rangka mengangkat isu perkotaan atau urban terutama bagi jenis burung-burung yang hidup di kota. Keberadaan jenis burung di perkotaan dengan kondisi habitat yang minim merupakan sebuah isu penting dalam menjaga sebuah keseimbangan kota. Salah satunya kota Jakarta dengan jumlah penduduk sekitar 13 juta jiwa menjadi salah satu faktor akan menyempitnya lahan perkotaan baik untuk pemukiman, gedung perkantoran dan juga perumahan. Kondisi tersebut mengakibatkan keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai habitat atau rumah bagi burung, herpetofauna, serangga juga semakin lama akan hilang. Pentingnya keberadaan RTH di Jakarta memberikan ruang bagi makhluk hidup lain sebagai tempat tinggal dan mencari makan, karena itu isu urban biodiversity menjadi sangat penting.
Sebagai langkah awal, komunitas Wildlife Jakarta sebagai sebuah komunitas yang selama ini melakukan berbagai kegiatan pengamatan burung di Jakarta bersama dengan Jakarta Birdwatcher Society mengadakan kegiatan Jakarta Bird Race yang akan berlangsung pada tanggal 28 – 30 November 2025. Kegiatan Bird race ini merupakan untuk pertama kalinya digelar di Jakarta dengan lokasi lomba pengamatan burung yang dipilih adalah ruang terbuka hijau, taman kota, dan kawasan konservasi yang ada di kota Jakarta. Kantong-kantong RTH yang tersisa di Jakarta menjadi tempat tidak hanya rekreasi bagi manusia, namun tempat hidup bagi makhluk hidup lainnya, karena itu kegiatan lomba pengamatan burung ini sebagai langkah awal dalam upaya mengoptimalkan kembali fungsi ruang hijau sebagai rumah bagi berbagai jenis burung yang bertahan hidup di tengah problematika kota, seperti Jakarta.
Kegiatan Bird Race Menjadi Kegiatan Penting Sebagai Gerakan
Kegiatan Bird race hari ini tidak hanya sebuah ajang lomba, namun juga sebagai gerakan dalam sarana edukasi lingkungan, kontribusi dalam pengumpulan data keanekaragaman hayati, menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya habitat alami, ruang belajar bagi generasi muda dan sarana dalam memperkuat komunitas pengamat burung diberbagai wilayah. Semakin tumbuh akan keberadaan komunitas pengamat burung maka gerakan ini dapat memberikan dampak positif bagi keberadaan jenis-jenis burung yang ada di Indonesia. Tidak hanya itu, dukungan dari berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga konservasi serta private sector menjadi sebuah kolaborasi bersama dalam mendorong minat publik akan pentingnya keberadaan burung melalui kegiatan Bird race sebagai salah satu kegiatan konservasi yang tumbuh dari masyarakat (Citizen science) yang berkelanjutan.
Perjalanan kegiatan Bird race di Indonesia menjadi sebuah perjalanan konservasi yang dimulai dari sebuah komunitas kampus berkembang menjadi sebuah gerakan komunitas yang merangkul berbagai latar belakang, mulai pelajar, mahasiswa, peneliti, serta masyarakat umum. Harapan ke depan, kegiatan Bird race menjadi sebuah wadah dalam menciptakan lebih banyak citizen science terutama pada generasi muda dalam menjaga serta melindungi keberadaan jenis-jenis burung di Indonesia.
Penulis : Ahmad Yasin Chumaedi/ Biodiversity Officer Gaia Indonesia
Referensi :
Birdrace saya: 1-5 | Peburungamatir’s Blog
Catatan Perjalanan “Young Birdwatchers to Birding Competition” – Teens Go Green Indonesia






