NEWS

Keanekaragaman Hayati Perkotaan (Urban Biodiversity)

Apa Itu Keanekaragaman Hayati Perkotaan dan Mengapa Keberadaannya Penting? 

Keanekaragaman hayati perkotaan sering terdengar seperti sebuah paradoks. Bagaimana mungkin kehidupan yang kompleks seperti yang kita temukan di hutan dapat bertahan di tengah dominasi beton, aspal, dan gedung-gedung tinggi? Namun, sains justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Kota bukan semata ruang hidup manusia; kota adalah ekosistem hidup yang dibentuk oleh komunitas biologis, serta interaksi yang terus-menerus antara manusia dan alam.  

Keanekaragaman hayati perkotaan merujuk pada seluruh bentuk kehidupan tumbuhan, satwa, jamur, serta mikroorganisme yang bertahan dan berinteraksi di dalam lanskap kota. Keanekaragaman ini tidak hanya hadir dalam bentuk taman kota atau kawasan lindung, tetapi juga pepohonan di jalan, lahan kosong, kebun atap, sungai, kawasan pesisir, hingga ruang hijau tak terencana yang muncul di sela-sela struktur beton. Beberapa riset terkini dalam bidang ekologi perkotaan menunjukkan bahwa terkadang perkotaan menyimpan keanekaragaman spesies yang mengejutkan (Aronson et al., 2014; Ives et al., 2016; Miguez et al., 2025). 

Kajian yang dilakukan Gómez-Baggethun et al (2013) menunjukkan bahwa meskipun terfragmentasi dan berada di bawah tekanan tinggi, ekosistem perkotaan tetap mampu menopang komunitas biologis yang kompleks dan fungsi ekologi yang tidak sederhana yang berperan penting bagi kesejahteraan manusia dan ketahanan lingkunganKekuatan utama dari temuan ini adalah satu hal, keanekaragaman hayati di kota tetap bekerja menyediakan berbagai jasa lingkungan seperti menyaring polutan udara dan air, mengurangi suhu udara,  meningkatkan penyerapan air, mengurangi risiko banjir, memperbaiki kualitas lingkungan, serta memberi manfaat sosial, budaya, dan kesehatan bagi warga kota. 

Saat ini, para ilmuwan semakin mendalami bagaimana keanekaragaman hayati tersebar di dalam kota, bagaimana pengelolaan ruang hijau memengaruhi komposisi spesies, dan bagaimana organisme perkotaan beradaptasi dengan lingkungan terbangun. Analisis globa juga menunjukkan bahwa ruang hijau dengan struktur vegetasi yang beragam dapat menyediakan jasa ekosistem yang lebih kuat dan komunitas spesies yang lebih kaya dibandingkan lanskap yang mengutamakan hamparan tanaman hias (Spotswood et al., 2021; Knapp et al., 2021; Ventura et al., 2024) 

Jakarta sebagai Ekosistem Perkotaan yang Hidup

Jakarta sebagai salah satu megapolitan terbesar di Indonesia sering dipersepsikan hanya sebagai ruang beton dan hiruk-pikuk pembangunan. Namun, ketika dilihat melalui lensa ekologi perkotaan, Jakarta juga merupakan ekosistem hidup yang aktif dan beragam. Data pemantauan komunitas burung di ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta menunjukkan bahwa setidaknya 134 jenis burung pernah tercatat hidup di berbagai taman dan ruang hijau kota (Rumengan, 2025). Meski jumlah spesies ini lebih rendah dibanding kondisi alami di luar kota, keberadaannya tetap signifikan karena burung merupakan indikator kuat kualitas ekosistem hijau perkotaan yang bergantung pada pepohonan dan vegetasi. 

Meski demikian, keanekaragaman hayati Jakarta berada dalam konteks ruang hijau yang masih sangat terbatas. Berdasarkan kajian berbagai penelitian akademik, luas RTH Jakarta diperkirakan baru mencapai sekitar 5,2% dari keseluruhan wilayah kota jauh di bawah target ideal 30% ruang terbuka hijau menurut Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 (Lidia Pratama & Huda, 2026). 

Yang menarik, meski RTH relatif kecil dalam proporsi wilayah, kualitas dan keberagaman struktur vegetasi di ruang-ruang ini memainkan peranan penting dalam menopang kehidupan biologis Jakarta. Vegetasi yang beragam tidak hanya memperkaya habitat bagi burung dan serangga, tetapi juga memfasilitasi fungsi ekologis yang berdampak langsung pada kenyamanan dan kesehatan masyarakat. Perspektif ini menegaskan bahwa Jakarta, seperti kota-kota besar lainnya, tetap merupakan bagian dari jaringan ekologis yang lebih luas, dan bahwa keberlanjutan kota bergantung pada bagaimana hubungan antara pembangunan dan alam dikelola bukan hanya sebagai elemen estetika, tetapi sebagai fungsi ekologis yang fundamental. 

Melihat Ulang Kota yang Kita Huni 

Pada akhirnya, memahami keanekaragaman hayati perkotaan mengajak kita untuk melihat ulang kota yang kita tinggali. Bukan hanya sebagai kumpulan bangunan, jalan, dan infrastruktur, tetapi sebagai ruang hidup bersama, tempat manusia dan makhluk lain berbagi udara, air, tanah, dan waktu. Setiap pohon di pinggir jalan, setiap aliran sungai yang tersisa, dan burung yang masih bersuara dipagi hari adalah tanda bahwa kota masih bernapas, kehidupan ekologis belum sepenuhnya tersingkir oleh derasnya pembangunan. 

Namun, kesadaran ini juga memunculkan pertanyaan yang lebih dalam. Jika keanekaragaman hayati perkotaan benar-benar ada, bekerja, dan memberikan manfaat nyata bagi kota dan warganya, mengapa ia sering tidak terlihat dalam pengambilan keputusan pembangunan? Mengapa keberadaannya jarang dipertimbangkan dan kerap dianggap sebagai pelengkap, bukan sebagai aset yang memiliki nilai ekologis dan sosial yang nyata? 

Di sinilah tantangan urban biodiversity hari ini berada: bukan lagi pada pembuktian keberadaannya, tetapi pada bagaimana kita mengenali, mengukur, dan menghargai perannya secara lebih sistematis. Cara kita menjawab tantangan ini akan menentukan apakah keanekaragaman hayati perkotaan akan terus terpinggirkan, atau justru menjadi bagian penting dari arah pembangunan kota di masa depan. 

 

Penulis : Ryan Avriandy I Data Scientist

 

Referensi 

Aronson, M.F.J., La Sorte, F.A., Nilon, C.H., Katti, M., Goddard, M.A., Lepczyk, C.A., et al. (2014) A global analysis of the impacts of urbanization on bird and plant diversity reveals key anthropogenic drivers. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 281, 20133330. 

Gómez-Baggethun, E., Gren, Å., Barton, D.N., Langemeyer, J., McPhearson, T., O’Farrell, P., et al. (2013) Urban Ecosystem Services. In Urbanization, Biodiversity and Ecosystem Services: Challenges and Opportunities: A Global Assessment (eds T. Elmqvist, M. Fragkias, J. Goodness, B. Güneralp, P.J. Marcotullio, R.I. McDonald, et al.), pp. 175–251. Springer Netherlands, Dordrecht. 

Ives, C.D., Lentini, P.E., Threlfall, C.G., Ikin, K., Shanahan, D.F., Garrard, G.E., et al. (2016) Cities are hotspots for threatened species. Global Ecology and Biogeography, 25, 117–126. 

Knapp, S., Aronson, M.F.J., Carpenter, E., Herrera-Montes, A., Jung, K., Kotze, D.J., et al. (2021) A Research Agenda for Urban Biodiversity in the Global Extinction Crisis. BioScience, 71, 268–279. 

Lidia Pratama, F. & Huda, L. (2026) RTH Jakarta Baru 5,31 Persen, Taman Kota Dinilai Belum Jadi Penyangga Ekologis. KOMPAS.com. https://nasional.kompas.com/read/2026/01/23/12034971/rth-jakarta-baru-531-persen-taman-kota-dinilai-belum-jadi-penyangga-ekologis [accessed 27 January 2026]. 

Miguez, N.G.Mason, B.M.Qiu, J.Cao, H. & Callaghan, C.T. (2025) Urban greenspaces benefit both human utility and biodiversity. Urban Forestry & Urban Greening, 107, 128791. 

Rumengan, J.A. (2025) Burung Urban Jadi Penanda Lingkungan Berkualitas Jakarta. dw.com. https://www.dw.com/id/burung-urban-jadi-penanda-lingkungan-berkualitas-jakarta/a-74549751 [accessed 26 January 2026]. 

Spotswood, E.N.Beller, E.E.Grossinger, R.Grenier, J.L.Heller, N.E. & Aronson, M.F.J. (2021) The Biological Deserts Fallacy: Cities in Their Landscapes Contribute More than We Think to Regional Biodiversity. BioScience, 71, 148–160. 

Ventura, L.Strubbe, D. & Shwartz, A. (2024) Beyond the concrete jungle: The value of urban biodiversity for regional conservation efforts. Science of The Total Environment, 955, 177222. 

 

Ask Our Expert

Join hands with GAIA, your dedicated partner in Southeast Asia, to make a lasting impact on our planet. With our expert team and local insights, we help you meet your climate, biodiversity, and social goals efficiently and effectively.

Contact Form