NEWS

Ketika Anak Krakatau Bergemuruh: Membaca Ulang Relasi Manusia dengan Alam

Hari Jumat, 4 September 2026 malam, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi panjang selama 25 lima jam. Fenomena yang digambarkan oleh Badan Geologi (2006) menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Gemuruh disertai dentuman dari kawah berjarak puluhan kilometer dari daratan itu ternyata tidak berhenti di kawasan gunung saja. Getarannya terasa hingga pemukiman warga di Kecamatan Labuan dan Carita, Kabupaten Pandeglang, dan abu vulkaniknya menyebar di sejumlah wilayah di Jawa Barat termasuk Jakarta. Peristiwa ini menjadi pengingat apa yang terjadi pada salah satu gunung api berdampak jauh melampaui batas administratif sampai menyentuh kehidupan di perkotaan yang secara geografis jauh dari sumber bencana.

Dampak erupsi kali ini tidak hanya dirasakan warga pesisir Banten dan Lampung yang tinggal berdekatan dengan gunung. Pada Minggu pagi, 6 September 2026, abu vulkanik dari Anak Krakatau terdeteksi telah mencapai bandara Soekarno – Hatta di Tangerang. Berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kolom abunya mencapai ketinggian sekitar 6.000 meter di sisi Jawa dan 15.000 meter di sisi Sumatra. Setidaknya sekitar 209 jadwal penerbangan di bandara Seokarno – Hatta hari itu dibatalkan, termasuk jadwal kepulangan tim Gaia Indonesia yang pada saat itu berada di Kalimantan Tengah menuju pulang ke Jakarta dan harus mencari alternatif penerbangan di hari lain. Tidak hanya dampak abu vulkanik, kondisi di pulau Kalimantan juga masih dilanda kebakaran hutan dan lahan yang membuat sejumlah wilayah tertutup asap tebal dan itu menambah daftar keprihatinan atas bencana alam yang terus melanda bangsa ini.

Bagi masyarakat pesisir, kekhawatiran warga terhadap potensi tsunami bukan tanpa alasan historis. Warisan letusan Gunung Krakatau yang terjadi tahun 1883 telah menyimpan banyak pelajaran lebih luas dari sekadar ancaman tsunami. Debu dan aerosol vulkanik yang dilontarkan ke atmosfer pada letusan tahun itu tercatat menyebar hampir ke seluruh dunia menghasilkan pemandangan langit senja berwarna kemerahan yang tidak lazim dan berkontribusi pada penurunan suhu global sementara. Fenomena ini menjadi salah satu bukti paling nyata bahwa atmosfer bumi adalah sistem yang saling terhubung, ketika partikel dari satu titik letusan mampu memengaruhi pola cuaca dan iklim di belahan dunia lain, meski efek pendinginan dari letusan gunung api bersifat sementara dan berbeda mekanismenya dari pemanasan global yang didorong oleh emisi gas rumah kaca jangka panjang.

Pengalaman erupsi Anak Krakatau tahun ini menunjukkan dua hal yang berjalan beriringan, yaitu pentingnya informasi ilmiah yang cepat dan dapat dipercaya, serta risiko kebisingan informasi yang justru menjadi simpang siur di masyarakat. BMKG secara konsisten memperbarui data pemantauan, mulai dari tingkat kegempaan, arah sebaran abu, hingga hasil pembacaan sensor tsunami, informasi semacam ini menjadi penopang utama bagi masyarakat kota maupun pesisir untuk membedakan risiko yang nyata dari kekhawatiran yang berlebihan. Bagi masyarakat urban yang sehari-hari jauh dari pengalaman langsung bencana geologis, momen seperti pembatalan penerbangan serta dialihkannya kegiatan belajar menjadi daring adalah pengingat bahwa infrastruktur kota mulai dari jalur penerbangan hingga sistem pendidikan tetap rentan terhadap peristiwa alam yang berjarak ratusan kilometer. Kerentanan ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya persoalan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana, melainkan juga persoalan kota yang selama ini merasa berada di luar jangkauan risiko.

Rangkaian peristiwa awal September 2026, ketika gemuruh gunung api bertemu dengan kepulan asap karhutla di pulau lain pada waktu yang hampir bersamaan menggugah pertanyaan bagi penulis, dari sudut pandang mana sebaiknya membaca peristiwa seperti ini? Ada banyak kerangka yang bisa dipakai, dan tidak ada satu pun yang berdiri paling benar sendirian. Penulis mencoba menggunakan tulisan milik Antropolog Tim Ingold (2000) yang menawarkan salah satu gagasannya yaitu dwelling perspective atau perspektif menghuni, yang menolak anggapan bahwa manusia berdiri di luar dunia untuk kemudian mengamati dan mengelolanya dari jarak aman. Bagi Ingold, manusia senantiasa sudah berada di dalam apa yang ia sebut taskscape, yaitu wujud aktivitas atau “proses kehidupan” yang terjadi di atas lanskap (dalam hal ini alam). Namun gagasan ini tidak berdiri sendiri, dan justru menjadi lebih kaya ketika dipertemukan dengan kerangka lain. Bruno Latour (1993) mengingatkan penulis bahwa persoalan seperti perubahan iklim selalu melibatkan jaringan hibrida yang menyatukan unsur alam, teknologi, dan kebijakan manusia sekaligus, sehingga sulit dipisahkan mana yang murni alami dan mana yang murni buatan manusia. Kedua kerangka tersebut meski berangkat dari tradisi pemikiran yang berbeda, bertemu pada satu titik yang sama, yaitu bahwa memisahkan manusia dari alam secara tegas adalah kekeliruan cara berpikir yang justru menghambat kerja adaptasi itu sendiri.

Bagi penulis, yang setiap hari dihadapi pertanyaan bagaimana komunitas beradaptasi terhadap perubahan iklim dan menyadari ketika berdampak sampai ke kota seperti gangguan pada penerbangan yang dibatalkan, langit yang dipenuhi abu dan asap, atau sekolah yang terpaksa beralih daring, sesungguhnya kota sedang dipaksa untuk beradaptasi. Meski di luar wilayah lanskap gunung, hutan, dan laut, wilayah perkotaan menjadi bagian dari lanskap tersebut hanya saja minim menyadarinya karena perubahan infrastruktur yang membuat alam tampak jauh dan diluar jangkauan. Sebagai masyarakat perkotaan isu tentang dampak perubahan iklim belum menjadi isu utama, akan tetapi ketika abu vulkanik Anak Krakatau melumpuhkan jadwal penerbangan dan asap karhutla mengepung ruang napas warga, sekat ilusi yang selama ini memisahkan “dunia manusia” dan “dunia alam” seharusnya runtuh seketika. Masyarakat yang berada di pesisir, hutan dan juga perkotaan (urban) adalah bagian yang tak terpisahkan dari satu lanskap global yang rapuh dan saling terhubung yang setiap detak aktivitas beresonansi dengan napas bumi. Dan setiap pengabaian terhadap alarm alam pada akhirnya akan menuntut bayaran yang nyata di depan pintu rumah kita sendiri.

Penulis : Uswatun Khasanah Enggar/ Social Development Officer Gaia Indonesia

Referensi:

Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2026, 5 September). Laporan khusus aktivitas Gunung Anak Krakatau (Nomor: 1512.Lap/GL.03/BGL/2026). Lampung.

Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2026, 6 September). Aktivitas Anak Krakatau terus dipantau, PVMBG pastikan status Siaga tetap berlaku usai erupsi menerus 25 jam [Siaran pers Nomor: 050.Pers/04/SJI/2026].

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2026, 11 September). Update kesiapsiagaan tsunami Lampung pascaerupsi Anak Krakatau.

Descola, P. (2013). Beyond nature and culture. University of Chicago Press.

Ingold, T. (2000). The perception of the environment: Essays on livelihood, dwelling and skill. Routledge.

Latour, B. (1993). We have never been modern. Harvard University Pres

Ask Our Expert

Join hands with GAIA, your dedicated partner in Southeast Asia, to make a lasting impact on our planet. With our expert team and local insights, we help you meet your climate, biodiversity, and social goals efficiently and effectively.

Contact Form