Keberadaan jenis-jenis burung di perkotaan kian tersingkir dari hiruk pikuk serta pembangunan. Habitat burung yang sebelumnya dipenuhi dengan pepohonan rindang kini berubah dengan bangunan gedung pencakar langit. Penampakannya jarang terlihat karena beberapa terpaksa berpindah tempat mencari tempat tinggal dan makan yang lebih aman dan nyaman menghindar dari aktivitas manusia.
Kehadiran burung di alam memiliki peran penting dalam menjaga sebuah ekosistem. Selain kicauan yang bagus, burung membantu dalam proses kehidupan bagi makhluk hidup lainnya. Ada jenis burung madu yang berperan dalam membantu proses reprduksi tanaman bunga. Jenis burung ini memiliki bentuk paruh yang panjang berfungsi untuk menghisap serbuk sari atau nektar dari bunga ke bunga sehingga dapat tumbuh dengan sempurna.
Burung Madu sriganti (Nectarinia jugularis)
Selain jenis burung madu, ada juga jenis burung yang menyukai jenis makanan biji-bijian. Burung ini juga membantu dalam penyebaran biji di berbagai lokasi dari sisa makanannya yang membantu generasi vegetasi di sekitar. Burung-burung memainkan perannya secara ekologis karena itu keberadaannya menjadi salah satu indikator akan sehatnya sebuah ekosistem termasuk dalam perkotaan.
Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster)
Kota Jakarta seperti diketahui bersama adalah kota metropolitan yang mengalami perubahan sangat pesat. Sebagai ibu kota negara, Jakarta dengan luas sekitar 4.384 kilometer persegi pada pasca peralihan kemerdekaan tahun 1959 memiliki tanah lapang serta perkampungan yang luas menggambarkan keasrian masih begitu terasa. Seiring waktu di tahun 1962 transformasi perubahan terjadi yang dikenal sebagai early metropolis yang ditandai dengan dimulainya pembangunan seperti jalan raya, tol, serta klaster perumahan terencana. Pembangunan tata ruang perkotaan mengalami banyak perubahan, termasuk perubahan akan keberadaan habitat keragaman hayati salah satunya jenis-jenis burung di Jakarta.
Pesatnya pembangunan di berbagai wilayah kota Jakarta membuat ketersediaan akan ruang terbuka kian menyempit. Tanah lapang serta pepohonan yang dulu menjadi tempat bertengger dan mencari makan bagi jenis burung tidak lagi sebanyak dulu, tergantikan dengan bangunan pencakar langit serta atap beton. Berdasarkan data, luas areal ruang terbuka hijau di Jakarta tahun 2026 baru mencapai sekitar 34.451.260 meter persegi atau sekitar 5 persen. Angka tersebut masih jauh dari harapan serta mengalami kesulitan mencari lahan baru mengingat perintah Undang Undang Nomor 26 Tahun 2017 tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) sedikitnya memiliki luas RTH sebesar 30 persen dari luas kota. Meski Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya mencapai angka target tersebut namun seiring berjalan masih mengalami kesulitan. Tahun ini setidaknya ada sekitar 1.300 taman kota dan 120 hutan kota yang tersebar di wilayah kota Jakarta yang secara presetase belum signifikan untuk memenuhi kebutuhan akan RTH di Jakarta.
Opitimalisasi Keberadaan RTH Jakarta
Kehidupan kota tidak hanya milik bagi manusia, namun juga bagi makhluk hidup di sekitar. Peran akan makhluk hidup lain memberi dampak dalam menjaga keseimbangan terhadap ketimpangan akan aktivitas manusia di perkotaan. Keberadaan RTH di Jakarta tidak hanya memberi terkesan estetika secara fisik, namun bagaimana keberadaannya juga berperan secara ekologis. Tempat yang banyak ditumbuhi berbagai jenis vegetasi memberikan ruang hidup bagi keragaman hayati yang hidup di dalamnya. Bagaimana keberadaan RTH di Jakarta memberi harapan bagi makhluk hidup lain salah satunya jenis-jenis burung perkotaan. Bagaimana jenis vegetasi yang tumbuh di taman dan hutan kota berfungsi untuk memancing kembali jenis-jenis burung yang ada sehingga menjadi sebuah ekosistem dan habitat yang sehat. Bagaimana peran RTH di Jakarta tidak hanya diperuntukan bagi manusia, namun juga memberi ruang bagi jenis burung yang ada, salah satunya dengan mengoptimalisasi fungsi RTH yang saat ini ada di Jakarta secara berkelanjutan.
Gelatik jawa (Padda oryzifora) Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus)
Memulai hal kecil dan sederhana mengoptimalkan peran RTH di Jakarta melalui data. Pendataan sederhana akan keragaman hayati RTH Jakarta menuju keberlanjutan melalui gerakan dengan mengajak individu, organisasi, maupun komunitas yang peduli akan lingkungan. Bagaimana data terkait vegetasi serta satwa di RTH Jakarta yang dilakukan secara berkala dapat memberikan indikator akan keberlansungan hidup di masa yang akan datang. Data pengamatan yang diperoleh diolah dan tervalidasi dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan fakta untuk dipublikasi secara luas sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat kota Jakarta akan pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau. Hal ini tentunya mendapat didukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sampai saat ini terus berupaya memperluas dan mengoptimalkan RTH yang ada, sehingga tujuan bersama dengan hidup berdampingan manusia dan makhluk hidup di sekitar dapat berjalan harmonis.
Teks dan Foto : Dedy Istanto/ Gaia Indonesia








