NEWS

Pohon Ulin: Jenis Keanekaragaman Hayati Kalimantan yang Terancam

Pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri), dikenal juga dengan nama belian atau kayu besi Borneo merupakan salah satu spesies asli Kalimantan (Native species). Selain di Kalimantan, jenis ini juga ditemukan di beberapa wilayah hutan di Sumatra. Pohon ini memiliki peran penting tidak hanya secara ekologi, tetapi juga sosial dan budaya, terutama bagi masyarakat lokal yang telah memanfaatkan kayunya selama berabad-abad.

Secara morfologi, Ulin dapat tumbuh menjulang mencapai 40 meter dengan diameter batang sekitar 150 centimeter. Batangnya cenderung lurus dan bebas cabang hingga 20 meter, dengan kulit kayu berwarna kemerahan yang menjadi ciri khasnya. Bunga Ulin berwarna putih kekuningan, sedangkan buahnya berbentuk bulat seperti telur dengan kulit berwarna hijau. Biji Ulin berwarna cokelat, berdinding keras, dan memiliki cangkang tebal yang membuat proses perkecambahannya berjalan sangat lambat, yaitu sekitar 6 – 12 bulan, dengan tingkat keberhasilan relatif rendah.

 

Biji Ulin yang sudah berkecambah di alam (kiri) dan Biji Ulin yang siap di semai (kanan)

Keistimewaan Ulin terletak pada kualitas kayunya yang luar biasa. Dengan klasifikasi kayu kuat kelas I dan kayu awet kelas I, kayu ini sangat tahan terhadap serangan rayap dan serangga pengerek batang. Tidak mengherankan jika masyarakat Dayak di Kalimantan telah lama menjadikannya bahan utama dalam pembangunan rumah tradisional, mulai dari atap sirap, lantai, hingga tiang pondasi. Hingga sekarang, kayu Ulin tetap diminati secara luas sebagai material konstruksi, namun karena tingginya permintaan tidak sebanding dengan kemampuan regenerasi alaminya.

Tekanan eksploitasi yang berlangsung lama, ditambah dengan laju deforestasi yang terus meningkat, telah menyebabkan populasi Ulin turun secara drastis. Saat ini, bisa dikatakan sangat jarang ditemui individu Ulin dengan diameter besar di habitat aslinya. Kondisi ini membuat lembaga konservasi dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan Ulin dalam daftar merah Red List of Threatened Species dengan status Rentan (Vulnerable), menandakan spesies ini menghadapi risiko tinggi menuju kepunahan di alam liar.

Dalam upaya menjaga kelestarian populasinya, pohon yang masih bertahan di habitat alaminya harus dilindungi, sementara bijinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bibit untuk penanaman kembali, baik di habitat asli (in-situ) maupun di luar habitat (ex-situ). Proses rehabilitasi ini harus dibarengi dengan monitoring untuk memastikan keberhasilan pertumbuhan. Selain itu, kebijakan pengelolaan yang berkelanjutan serta pembatasan eksploitasi diperlukan agar spesies bernilai tinggi ini tetap lestari bagi generasi mendatang.

Ulin bukan hanya sekadar pohon, melainkan simbol ketahanan hutan tropis Kalimantan sekaligus warisan budaya masyarakatnya. Tanpa upaya konservasi yang terencana dan konsisten, keberadaan pohon legendaris yang dijuluki “kayu besi” ini berisiko hanya tersisa dalam catatan sejarah dan cerita rakyat.

 

Teks dan Foto : Oktavianus Limpa/ Botanist Gaia Indonesia

Reference

Effendi, R. (2009). Kayu Ulin di Kalimantan : Potensi, Manfaat dan Permasalahan dan Kebijakan yang di perlukan untuk kelestarianya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.

IUCN. (2025). The IUCN Red List of Threatened Species. Retrieved from The IUCN Red List of Threatened Species: <https://www.iucnredlist.org>

Sukaesih Pradjadinata, M. (2014). Management and Conservation of Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm . & Binn.) in Indonesia). Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi .

YIARI. (2024). Mengenal Pohon Ulin: Manfaat, Habitat, Ancaman, dan Upaya Pelestariannya. Retrieved from https://yiari.or.id/pohon-ulin/

 

Ask Our Expert

Join hands with GAIA, your dedicated partner in Southeast Asia, to make a lasting impact on our planet. With our expert team and local insights, we help you meet your climate, biodiversity, and social goals efficiently and effectively.

Contact Form